ANALISINDO : MEMPELAJARI MASALAH ENGINEERING LEBIH DALAM DAN DETAIL

    7 Langkah Dalam Mendesain Lantai Laboratorium Kimia

    Cara mendesain lantai laboratorium kimia yang baik

    Lantai yang kokoh, kuat, datar dan clear adalah lantai yang diperlukan dalam memudahkan para analis untuk dapat bekerja dalam laboratorium kimia secara baik, benar dan aman. Dan dalam postingan kali ini om Indo akan berbagi tentang langkah-langkah dalam mendesain atau merancang lantai untuk sebuah laboratorium kimia. 

    Apa saja yang harus dilakukan dan runtutuan langkah demi langkah yang bisa diambil dalam merancang lantai laboratorium kimia yang baik? Mari kita simak dalam tulisan dibawah ini. 

    #1 Kumpulkan Semua Data Terkait Laboratorium 

    Langkah pertama dalam merancang lantai laboratorium kimia adalah dengan mengumpulkan data-data terkait. Data tersebut antara lain : 

    - Jenis Laboratorium Kimia 

    - Jumlah Analis yang bekerja dalam laboratorium 

    - Waktu atau jam kerja analis dalam laboratorium 

    - Isi laboratorium (Bahan kimia, peralatan, furniture) 

    - Tata letak yang telah disetujui 

    - Bobot Barang Yang melewati atau diletakan di Laboratorium kimia 

    - Dsb. 

    Pengumpulan data ini penting sekali untuk menentukan desain lantai yang tepat bagi laboratorium kimia. Sehingga diletakan sebagai langkah pertama dalam mendesain laboratorium. 

    #2 Bahan Dasar lantai 

    Setelah melihat semua factor yang mempengaruhi sebelumnya, maka kita di langkah kedua ini harus menentukan bahan dasar lantai. 

    Untuk laboratorium uji yang penuh dengan peralatan dan furniture yang berat, serta nanti akan ada peletakan beberapa equipment atau fasilitas tambahan yang berat, maka disarankan menggunakan lantai beton sebagai dasarnya. 

    Untuk lantai laboratorium kimia yang direncakan akan disi oleh barang-barang berat namun masih sekitar 100 kg ke bawah, maka bisa dengan bahan dasar plesteran halus campuran semen dan pasir atau yang biasa disebut dengan tegel. 


    #3 Pastikan ada saluran drain 

    Untuk laboratorium kimia, sangat disarankan untuk memiliki saluran drain di lantainya. Hal ini untuk memudahkan pembersihan lantai ketika ada pereaksi atau bahan kimia yang jatuh. Tapi tetap ingat untuk menghubungkan saluran drainnya dengan jalur penampung limbah B3. 

    #4 Pilih Lapisan teratas berdasarkan kebutuhan 

    Langkah ke-empat dalam mendesain lantai suatu laboratoium kimia adalah dengan memilih lapisan teratas sesuai dengan kebutuhan. 

    Jika sekiranya dalam laboratorium akan banyak analisa yang melibatkan bahan kimia yang korosif, maka sebaiknya lapisan paling atas menggunakan bahan epoxy poly urethane. Tapi jika sekiranya bahan kimia yang digunakan tidak corrosive karena konsentrasinya encer, maka bisa menggunakan keramik saja. 


    #5 Berikan marking untuk area lantai khusus 

    Langkah Kelima dalam mendesain suatu lantai laboratorium kimia adalah dengan memberikan marking atau penandaan pada daerah-daerah tertentu atau daerah yang direncanakan untuk fasilitas tertentu. 

    Beberapa penandaan yang biasa diberikan dilantai laboratorium : 

    - Penandaan Area Berbahaya Hazardous Area 

    - Penandaan Area APAR 

    - Penandaan Area untuk dikosongkan (Fasilitas tambahan masa depan) 

    - Penandaan Area dengan ketinggian yang berbeda 

    - Penandaan area drain 

    Marking juga bisa dilakukan sesuai dengan ide dari investor atau para pihak yang mengisi laboratorium nantinya. Selama tidak bertentangan dengan kaidah display dalam ilmu ergonomi dan keselamatan kerja laboratorium maka semuanya sah-sah saja. 



    #6 Pastikan Lantai Datar 

    Langkah keenam dalam mendesain lantai laboratorium, adalah dengan memastikan lantai datar tidak miring secara drastic ke arah tertentu. Hal ini untuk meminimalisir terjadinya kecelakaan akibat terpeleset ataupun barang yang bergerak akibat energi kinetic. 



    #7 Minimalisasi Getaran di Lantai 

    Langkah ke tujuh dalam mendesain lantai di laboratorium kimia adalah dengan memastikan lantai minim dari objek yang menimbulkan getaran. 

    Dalam laboratorium, kejadian tersandung dapat mengakibatkan kegagalan suatu analisa dan bahkan bahaya yang tinggi. Objek-objek yang menimbulkan getaran dilantai harus diminimalisir. Lantai dari keramik yang berukuran kecil dapat berpotensi memberikan getaran ketika trolley lab didorong dan bisa membuat bahan kimia terciprat. Oleh karenanya kontraktor yang bekerja untuk membuat lantai lab harus bisa meminimalisasinya dan mengkomunikasikan hal tersebut pada investor yang membuat lab. 

    Komunikasi hal ini penting agar jangan sampai tema atau desain yang direncanakan oleh investor bertabrakan dengan kaidah keselamatan kerja di laboratorium khususnya dalam bagian perancangan lantain. 


    Itu dia 7 Langkah dalam mendesain lantai laboratorium kimia. Mudah-mudahan dapat menjadi masukan yang cukup baik bagi para praktisi laboratorium, analis, apoteker dan semua pihak yang menggunakan laboratorium kimia.

    Salam Analisindo



    Category: articles

    7 HAL PENTING DALAM MENDESAIN LABORATORIUM KIMIA

    Konsultan Desain laboratorium



    Laboratorium kimia adalah tempat dimana serangkaian percobaan dan analisa kimia dilakukan. Semakin kompleksnya analisa yang dilakukan, maka tentu memerlukan beragam peralatan yang kompleks pula dan hal tersebut diiringi dengan desain laboratorium yang baik.

    Dalam postingan kali ini analisindo akan membahas tentang 7 hal penting yang mempengaruhi desain laboratorium kimia.

    1. Jenis Analisis yang dilakukan

    Hal pertama yang akan mempengaruhi desain laboratorium adalah dari jenis analisis yang dilakukan dalam Laboratorium kimia itu sendiri. Secara jenis pengujian, ada dua jenis yakni uji kualitatif dan uji kuantitatif. Untuk pengujian secara kuantitatif apalagi dengan tingkat akurasi yang tinggi (Instrumentasi), tentu akan memerlukan ruangan yang lebih besar dibandingkan dengan laboratorium untuk uji kualitatif.

    Oh iya berdasarkan aktifitas pabrik, juga dikenal dua jenis laboratorium yakni laboratorium R&D dan laboratorium uji. Untuk laboratorium R&D biasanya ruangannya tidak terlalu besar, karena hanya difokuskan untuk mencari racikan atau komposisi baru. Sehingga isi dari ruangannya kebanyakan adalah alat untuk mixing ataupun alat untuk sampling.

    Lain halnya dengan laboratorium uji, yang ruangannya, furniture, tata letak, pencahayaan, dan peralatan safetnya dirancang dengan lebih spesifik dan detail dikarenakan pekerjaan didalamnya lebih kompleks.

    2. Peralatan dan Bahan kimia yang digunakan

    Hal kedua yang akan mempengaruhi desain laboratorium adalah peralatan dan bahan kimia yang digunakan. Untuk laboratorium yang banyak menggunakan bahan kimia keras (corrosive), maka biasanya mejanya akan didesain tahan korosi. Prosesnya bisa dengan pelapisan cat anti korosi atau bisa juga dengan menggunakan material keramik atau kaca.

    Untuk laboratorium yang menggunakan bahan kimia beracun, biasanya laboratorium akan memiliki perlengkapan tata udara dan ventilasi yang baik, fungsinya adalah jelas untuk memudahkan udara beracun keluar dan menghindari dihisap oleh para pekerja dalam laboratorium.

    3. Jumlah Analis yang bekerja dalam Laboratorium
    Jumlah analis yang bekerja akan menentukan ukuran si laboratorium itu sendiri. Secara spesifik akan menentukan area berjalan dan area kerja itu sendiri. Minimal ukuran lorong untuk analis berjumlah 2-5 orang adalah 80 cm. sedangkan untuk analis yang bekerja dalam ruangan berukuran 30 m2, dengan jumlah diatas itu minimal memiliki lorong atau area berjalan sebesar 1,5 meter.

    Ukuran lorong dibuat besar adalah untuk memudahkan analis yang bekerja untuk lewat tanpa saling bersinggungan. Oh iya tapi tentunya hal ini juga berpengaruh pada sebesar apa sih analis yang bekerja disana.

    4. Lamanya Waktu Aktifitas Laboratorium

    Hal keempat yang akan mempengaruhi desain sebuah laboratorium adalah lamanya waktu aktifitas laboratorium. Semakin lama aktifitas dalam laboratorium, maka disarankan laboratorium tersebut memiliki sarana hiburan yang memadai.

    Sarana hiburan disini bukan berarti seperti meja biliar atau lapangan sepak bola, namun lebih ke media untuk menghilangkan penat dan ketegangan selama analisa dilakukan.

    Sarana yang bisa diberikan adalah seperti sarana audio visual seperti speaker atau layar tertentu. Bisa juga diberikan pemandangan taman untuk tempat bercengkrama yang baik ataupun hal lainnya sesuai dengan selera dan kesepakatan antara owner dengan kontraktor pembuat laboratorium kimia.

    5. Jumlah Analisa yang dilakukan di Laboratorium

    Semakin banyak dan beragam analisa yang dikerjakan di dalam laboratorium tentunya akan berhubungan dengan semakin banyaknya tempat penyimpanan sample dan pereaksi.

    Untuk itu tempat atau storage juga harus mulai dipertimbangkan agar bahan kimia yang memiliki sifat reaktif satu sama lain tidak ditaruh secara berdekatan atau bersinggungan. Dan bahan kimia yang melepaskan uap yang mudah terbakar diletakan terisorlir dari panas atau bahan kimia lain yang bersifat melepaskan panas.

    6. Spesifikasi Khusus Laboratorium dari Pihak Investor

    Hal ke-enam yang turut dipertimbangkan ketika mendesain laboratorium adalah spesifikasi atau model atau tema tertentu yang diinginkan oleh investor.

    Biasanya, perusahaan yang telah memiliki label tertentu yang melekat secara jelas, akan berupaya membranding segala posisi atau ruangan seperti tema khusus yang diusung produknya. Hal ini tentu bisa diterima namun dengan catatan desain atau temanya tidak akan mengaburkan peringatan tanda bahaya ataupun warning lainnya dalam laboratorium. 

    Cara Membuat laboratorium kimia


    7. Ukuran Barang atau Sample yang Masuk Ke Laboratorium
    Hal terakhir yang akan turut mempengaruhi desain sebuah laboratorium kimia adalah ukuran barang atau sample yang masuk ke Laboratorium.

    Untuk lab yang menerima sampel berukuran besar, maka diharapkan telah memiliki ukuran pintu yang lebih besar sedikit dibandingkan dengan barang tersebut. Selain itu, lantai atau koridor tempat berjalannya juga seharusnya lebih besar daripada barang yang akan dibawa. Hal ini untuk menghindari terjadinya kerusakan terhadap sample atau alat analisa yang akan dipasang dalam laboratorium.

    Itu dia 7 hal yang biasa dipertimbangkan karena berpengaruh dalam desain laboratorium. Semoga menjadi tulisan yang cukup menambah wawasan bagi teman-teman sekalian.
    Category: articles

    Cara Mendesain Pencahayaan bagi TPS B3

    Untuk Penempatannya tidak sesuai, jangan jadi contoh

    Selamat Pagi Sobat Analisindo sekalian, alhamdulillah disela-sela kesibukan. hari ini saya masih bisa menyempatkan diri untuk menambah artikel di website ini.

    Kali ini kita akan mendesai pencahayaan untuk TPS B3. Dimana aspek pencahayaan memiliki faktor yang cukup penting untuk memudahkan pekerjaan di dalam TPS B3 dan juga untuk menjaga agar TPS tidak mudah menjadi sarang binatang atau lainnya.

    Baca Juga : 10 Langkah Mendesain Lantai TPS B3

    Jenis-jenis pencahayaan TPS B3

    Berdasarkan sumbernya, ada dua jenis pencahayaan yang bisa dipakai untuk TPS B3. Yakni pencahayaan alami dan pencahayaan buatan.

    a. Pencahayaan Alami

    cara mendesain TPS b3
    Contoh TPS B3 menggunakan cahaya matahari


    Pencahayaan alami, adalah sumber cahaya yang diambil lewat alam atau fasilitas sekitar. Tujuannya adalah untuk menghemat energi dan juga untuk membuat suasana TPS lebih asri.

    Untuk menggunakan pencahayaan alami, TPS dapat menggunakan atap yang transparan sehingga cahaya matahari bisa masuk. Namun posisi atap transparan tersebut tidak bisa dipasang secara keseluruhan karena khawatir dapat menimbulkan panas berlebih yang membuat TPS menjadi tidak nyaman.

    Cara lainnya adalah menggunakan jendela kaca, sehingga cahaya bisa ikut masuk ke dalam TPS. Dengan keberadaan jendela juga memberikan sisi yang lebih humanis terhadap bangunan TPS B3.

    Ventilasi yang cukup besar juga cukup bagus untuk dipilih menjadi sumber cahaya bagi TPS B3 yang Anda miliki.

    Pencahayaan alami adalah pilihan utama untuk memberikan cahaya untuk TPS B3 dikarenakan pada umumnya TPS hanya dioprasikan pada siang hari, dan hanya sedikit saja di malam hari.

    yang harus dihindari adalah memberikan cahaya matahari kepada limbah b3 yang memiliki sifat explosive ataupun bisa menimbulkan volatile gas seperti yang mengandung benzene, alkohol atau senyawaan etil.

    Baca Juga : Penjelasan Proses Terjadinya Korosi

    b. Pencahayaan Buatan

    Pencahayaan buatan yang dimaksud adalah dengan menggunakan lampu listrik, ataupun dengan menggunakan lampu dengan tenaga baterai.

    Pastikan lampu tidak berada terlalu dekat dengan limbah B3, untuk menghindari transfer panas akibat radiasi. Pastikan pula lampu menerangi area kerja kritis, seperti ruang kerja operator ataupun area sudut.

    desain lampu untuk tps b3
    Contoh Lampu yang direkomendasikan untuk hazardous area


    Lampu tipe Explosion Proof cukup bagus untuk dipilih. Namun kalau melihat dari segi harga, maka lampu LED bisa menjadi pilihan yang lebih baik. Lampu LED memancarkan panas yang lebih sedikit, selain itu lampu jenis ini juga hanya membutuhkan energi yang lebih sedikit. Sehingga bisa menghemat budget pembayaran listrik anda.

    Baca Juga : 5 Kesalahan Dalam Mendesain RO System

    Penempatan Lampu TPS B3

    Lampu pada TPS B3, dapat dikategorikan sebagai lampu pada area berbahaya. Untuk itu setidaknya mengikuti beberapa kaidah berikut dalam mendesain tata letaknya agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan ;

    1. Posisi Lampu sebaiknya berada 1,5-3 meter dari wadah B3 tertinggi
    2. Lampu diberikan cover agar tidak mudah rusak dan berdebu
    3. Lampu diberikan gantungan yang cukup kuat, tidak mudah goyang karena aktifitas standar
    4. Lampu diletakan pada area  sekitar : Pintu masuk, area kerja operator, sudut dan pintu emergency

    Demikian Postingan tentang cara mendesain pencahayaan pada TPS B3. Mudah-mudahan dapat menjadi masukan yang cukup baik bagi Anda yang sedang berupaya untuk mendesain TPS B3 yang aman.



    Salam Lingkungan,


    Mr. Anggi Nurbana

    Category: articles

    Langkah Dan Cara Mendesain Lantai TPS B3

    bagaimana cara cepat untuk mendesain TPS

    Selamat pagi sobat analisindo.com sekalian. Alhamdulillah kali ini web ini bisa update kembali. Karena sebelumnya saya lupa kalau saya punya web ini juga hahaha. Saya kira cuma olah-air.com doang.

    Kali ini di web ini akan kita bahas cukup banyak judul tentang TPS B3. Kenapa TPS B3? Sebab kebetulan saat ini lagi cukup rame nih proyek TPS B3 yang sedang saya garap, jadi kalau saya share tulisannya masih anget nempel dikepala.

    Oh iya, kalau ditemukan bahasa dipostingan ini kurang mengenakan dalam dibaca (terlalu memaksakan kata cara dan langkah), mohon dimaafkan ya. Hal ini dilakukan semata-mata untuk membuat postingan ini mudah di Index oleh google dengan kata kunci "Cara Mendesain Lantai TPS B3" hehehe

    Kita akan bahas TPS B3 secara general, dan kita juga akan bahas persectionnya. Persection maksudnya dari segi setiap fasilitas yang ada di TPS B3. Dari mulai penempatan APAR, Loker, Wadah B3 dan lainnya hingga cara penggunaan akses.

    Dan pada postingan kali ini, kita akan membahas tentang cara mendesain lantai TPS B3. Saya akan coba bahas ini dengan bahasa yang sesimple mungkin, namun dengan tetap mengacu pada inti. Baiklah, siapkan kopi hangat dan cemilan ya karena kita akan mulai pembahasannya.

    Langkah / Cara Mendesai Lantai TPS B3


    1. Tentukan Lokasi TPS B3 Berada

    Oke Langkah pertama yang harus Anda lakukan sebelum mendesain lantai TPS B3 adalah melihat dulu dimana sih sebenarnya area yang dipersiapkan untuk TPS B3 Anda.

    Ini penting sekali, sebab nanti akan berhubungan dengan banyak hal, seperti akses masuk dan keluar, gangguan kerja, pembuatan drain/saluran got tps b3 dan hal lainnya.

    Beberapa hal yang harus anda pastikan ketika melihat lokasi calon TPS B3 Anda berada nanti adalah :
    a. Pastikan berada di tanah datar (minimal proses pengurugan dan perataan tidak sulit)
    b. Kedalaman muka air tanah diatas 1 meter
    c. Akses jalan menuju TPS B3 mudah
    d. Steril dari badan air dan warga sekitar 50-100 m
    e. Area tidak memiliki riwayat bencana yang buruk (Banjir, Longsor, Dsb)
    f. Area yang mudah dipantau oleh Security

    pastikan lokasinya sesuai dengan kriteria diatas. Untuk penjabaran alasannya kita akan bahas di postingan selanjutnya nya tentang cara menentukan lokasi TPS B3.


    2. Hitung Volume Limbah Harian VS Waktu Tinggal Limbah B3

    Langkah atau cara kedua dalam mendesain lantai TPS B3 adalah dengan memperhatikan volume limbah harian dibandingkan dengan waktu tinggal limbah b3. Waktu tinggal limbah b3, secara mudah adalah "Waktu lamanya limbah B3 ditempatkan di TPS hingga mau diangkut oleh Transporter Limbah B3"


    Perbandingan dan perhitungan ini sangat penting, sebagai cara untuk mendesain luas lantai TPS B3 yang akan kita buat. Semakin lama waktu tinggal limbah B3 dalam tps maka tentu semakin besar pula luas lantai yang diperlukan.

    Contoh Perhitunganya adalah seperti ini :
    PT. Oke Banget menghasilkan limbah sebanyak 200 kg perhari. Limbah tersebut disimpan dalam wadah drum plastik yang diberi label. Dalam agreement, transporter baru akan mengambil limbah b3 tersebut jika sudah sebanyak 4 Ton. Berapakah kira2 luas lantai yang harus dimiliki minimal untuk bisa menampung limbah tersebut. (Faktor lain belum dihitung)

    Jawaban :
    4 ton adalah 4000 Kg. Yang berarti 4000/200 maka akan dihasilkan 20 hari tampungan. Jika kita konversikan ke dalam luasan lahan maka. 560 mm x 20 x 1,3 (Faktor Safety). Maka hasilnya adalah 15.6 m2.

    Baca Juga : Menggunakan Visual Inspection Sebagai Teknik NDT

    3. Buat Saluran penampung di Area B3 Basah
    Langkah atau cara mendesain lantai TPS B3 selanjutnya adalah dengan memperhitungkan juga area yang akan digunakan untuk saluran.
    Saluran biasanya dibuat dipinggir dan sekeliling area Limbah B3 basah. Tujuannya tentu saja adalah  untuk menangkapn dan mengalirkan limbah cair yang datang sehingga tidak mengkontaminasi lingkungan.

    Ukuran selokan lokal cukup bervariasi dari mulai lebar 20 cm hingga 50 cm. Hal ini tentu akan berpengaruh pada ukuran lantai TPS B3. Misal ukuran panjang sudah 10 meter x 7 meter. Maka nanti perlu ditambahkan minimal 20 cm. sehingga menjadi 10,2x7,2 meter. (Begitu kira-kira, aktualisasi dilapangan bisa lebih kompleks).

    4. Jangan lupa setting kemiringan lantai
    Lantai TPS B3 juga harus disetting dengan kemiringan tertentu. Kalau di petunjuk teknis disebutkan harus memiliki kemiringan 1 derajat. Dan 1 derajat ini harus mengarah pada saluran tumpahan limbah b3.

    Dilapangan, kemiringan ini bisa ditambahkan. namun tetap dalam batas aman dimana wadah limbah b3 tidak mudah tergeser akibat adanya gaya gravitasi.

    Baca Juga : Jenis-Jenis Proses Water Treatment

    5. Ada bahan kimia korrosif? Gunakan lantai dengan lapisan khusus
    Langkah kelima dalam mendesain lantai TPS B3 adalah, kita harus memperhatikan sifat dari limbah b3 yang akan kita simpan.

    Untuk limbah B3 yang memiliki sifat korrosif, baiknya kita melapisi lantai dengan cat khusus anti korosi. Bisa juga dengan proses linning (Tapi agak mahal). Tujuannya adalah, tentu saja untuk mengamankan lantai TPS dari tumpahan berbahaya sehingga tumpahan tersebut tidak merusak lantai dan meresap ke dalam tanah. (Untuk pilihan pengecatannya, akan direkomendasikan nanti ya)

    Lihat Juga : Indonesia Best Water Treatment Company

    6. Perhatikan Ergonomi Pekerja/Operator
    Langkah atau cara ke-enam untuk mendesain Lantai TPS B3 adalah dengan memperhatikan ergonomi pekerja yang bekerja di TPS. Karena tanpa perhitungan Ergomi yang baik, nantinya TPS hanya bisa simpan ga bisa ambil atau bisa simpan pas ambil susah.

    Perhatikan letak antara wadah, berikan space gerak atau maintenance minimal 30 cm (rekomendasi 60 cm). Perhatikan juga tempat berjalan operator ketika membawa limbah b3 ataupun tidak, jangan sampai si operator kesulitan berjalan menyusuri lorong dikarenakan sangat kecilnya lorong tempat limbah b3 disimpan.

    Lihat Juga : 7 Poin Penting dalam Mendesain STP

    7. Ada Kendaraan masuk TPS? hitung manuvernya!
    Cara atau langkah selanjutnya dalam mendesain TPS B3 adalah dengan turut memperhitungkan manuver dari kendaraan yang masuk.

    Hitung lebar dan panjang kendaraan, lalu simulasikan kalau kendaraan tersebut bergerak maju, mundur, ataupun memutar ketika berupaya mengambil pallet.

    Dalam perhitungan nanti berikan juga faktor safety untuk allowance gerakan sekitar 0,2-0,3.

    bagaimana cara mendesain atau merancang lantai TPS B3


    8. Beri batas yang jelas antar area Limbah B3
    Cara ke delapan dalam mendesain lantai tps b3 adalah dengan memberikan batas yang jelas antar area wadah limbah b3.
    Pisahkan antara limbah b3 yang mudah meledak dengan limbah oxidizing. Pisahkan juga limbah b3 kering dengan limbah b3 basah. Pisahkan juga posisi limbah scrap dengan limbah cair.
    Proses pemisahan bisa dilakukan dengan pengecatan di lantai atau bisa juga dengan membuat batas tembok bawah dengan batu bata.

    Lihat Juga : 8 Komponen Penting Pengisi PID

    9. Berikan Bumper Sign jika perlu
    Bumper diberikan pada area yang dekat dengan tembok atau area kritis. Hal ini untuk menjaga dan mengingatkan operator forklift akan jarak kendaraanya dengan tembok ataupun benda lainnya.

    Bumper sebaiknya dicat terang ; misal warna orange atau hijau stabilo untuk proses memudahkan identifikasi.



    10. Terakhir, jangan lupa buat dokumentasinya
    Oh iya langkah terakhir yang tidak boleh dilupakan dalam cara mendesain lantai TPS B3 ini adalah harus membuat dokumentasinya.

    Buatlah dokumentasi rancangan tata letak fasilitas TPS B3 dengan skala yang benar dan sesuai. Buat pula narasi dari tata letak tersebut untuk proses pembacaan lay out.

    Itulah dia 10 Cara dan Langkah Mendesain Lantai TPS B3. Mudah-mudahan bermanfaat bagi para pembaca www.analisindo.com sekalian.

    Salam Hangat,



    Mr. Anggi Nurbana
    Category: articles

    NON-DESTRUCTIVE TESTING UNTUK KOROSI


    Non-Destructive Testing (NDT) didefinisikan menurut The American Society for Non-Destructive Testing (ASNT) sebagai penentuan kondisi fisik dari sebuah objek tanpa memberikan dampak pada kemampuan objek tersebut untuk bekerja sesuai yang diinginkan. Teknik NDT biasanya menggunakan bentuk kekuatan menggali untuk menentukan sifat material atau untuk mengindikasikan keberadaan dari material yang diskontiniu (permukaan, internal atau tersembunyi).

    Pada paradigma NDT modern, penggunaan NDT dapat dipecah menjadi beberapa kategori tergantung peran penting yang akan diterapkan seperti:

    • · Pengukuran sifat material 
    • · Disain proses manufaktur material 
    • · Kontrol proses online 
    • · Quality control pada berbagai tahap manufaktur. 

    Sebagai tambahan, NDT memegang peranan penting dalam operasi keselamatan yang berkelanjutan dari asset fisik. Singkatnya, NDT digunakan dalam inspeksi konvensional dan pemantauan kesehatan dimana sensor NDT yang tertanam atau terpasang pada sistem diinspeksi atau dimonitor terhadap kerusakan. Pada kasus kebanyakan pelanggan harus mendefinisikan syarat-syarat dari test yang akan dilakukan seperti level minimum yang dapat diterima untuk sifat dan karakteristik material. Sehingga dengan memberikan informasi ini NDT engineer atau teknisi yang berpengalaman dapat memilih metode yang cocok dan mengembangkannya untuk syarat inspeksi.



    Metode Non-Destructive Testing


    Sebuah metode NDT diklasifikasikan berdasarkan prinsip fisik yang mendasarinya. Sebagai contoh metode yang biasa digunakan antara lain:

    • · Visual and Optical Testing (VT) 
    • · Radiographic Testing (RT) 
    • · Electromagnetic Testing (ET) 
    • · Ultrasonic Testing (UT) 
    • · Liquid Penetrant Testing (PT) 
    • · Magnetic Particle Testing (MT) 
    • · Acoustic Emission Testing (AE), dan 
    • · Infrared and Thermal Testing (IR) 

    Sebuah teknik NDT menjelaskan semua parameter untuk penerapan metode spesifik untuk masalah tertentu. Parameter-parameter yang dimaksud adalah instrumen, penyelidikan, kriteria diterima, spesifikasi kalibrasi, dan masih banyak lagi. ASNT menawarkan buku yang menjadi refrensi kunci dalam implementasi praktis NDT. Sebagai tambahan, AMMTIAC (Advance Materials, Manufacturing, and Testing Information Center) memiliki sejumlah laporan mutakhir dan penilaian teknologi yang menyediakan ulasan secara mendalam topik yang spesifik. Dibawah ini akan dibahas mengenai metode NDT yang umum digunakan.


    Visual NDT


    Sejauh ini metode NDT yang paling umum adalah pengetesan secara visual dan optik. Dalam banyak contoh, seorang inpektor yang terlatih yang menggunakan banyak peralatan-peralatan yang sederhana seperti lampu senter dan kaca pembesar dapat melakukan inspeksi dengan lebih efektif. 

    Dalam quality control, serta dalam maintenance operation, pengetesan visual merupakan garis pertahanan pertama. Dalam menentukan apakah diperlukan pengetesan secara visual, potensi dan keterbatasannya sangat penting untuk dimengerti. 

    Apabila metode visual tidak cukup untuk mengatasi masalah, penggunaan metode yang lebih kompleks harus dipertimbangkan. Penggunaan metode inspeksi visual pada sistem yang tertutup kemungkinan akan menjadi tidak efektif. 

    Sebuah alat yang biasa dikenal dengan nama boroskop sering digunakan untuk memungkinkan teknisi atau engineer melakukan inspeksi di area yang sulit untuk melihat. Boroskop biasanya merupakan kamera yang berukuran kecil yang dapat diletakkan pada ujung kabel fiber optic. Kamera dapat dimasukkan ke area yang tertutup oleh visual secara langsung dan menghasilkan gambar yang dapat dilihat secara real-time dalam sebuah layar video.


    Optical NDT


    Ada banyak macam dari metode optical NDT yang tersedia saat ini. Dalam NDT korosi, metode ini biasa digunakan untuk mendeteksi dan mengukur deformasi pada permukaan. Deformasi ini kemungkinan disebabkan karena keropos pada permukaan yang terekspos atau karena kerusakan korosi pada struktur. 
    PT CHEMINUSA biasa melakukan jasa non destructive test
    Salah satu mesin untuk optical NDT

    Ada beberapa instrument yang dapat digunakan dalam mengimplementasikan metode ini menurut Moire, yaitu: Electronic Speckle Pattern Interference (ESPI) dan Digital Speckle Correlation, dan holography. Sistem optik topofragi permukaan lainnya telah digunakan untuk mengkarakteristikkan kerusakan akibat korosi. 

    Metode metrology optik langsung seperti laser interferometry dan triangulation-based telah digunakan dalam laboratorium untuk kondisi mengukur kemampuan untuk menolak akibat kerusakan oleh korosi pada struktur alumunium tipis.


    Ultrasonic NDT


    Pengujian ultrasonik menggunakan sangat beragam metode berdasarkan pada generasi dan deteksi getaran mekanis atau gelombang dalam benda uji. Benda uji tidak terbatas pada logam saja atau bahkan untuk benda padat saja. Istilah ultrasonik mengacu pada gelombang suara frekuensi diatas pendengaran manusia. 
    perusahaan pembuka jasa NDT
    Contoh Ultrasonic Test(Sumber : Solmet. Net)

    Kebanyakan teknik ultrasonik menggunakan frekuensi sekitar 1 sampai dengan 10 MHz. kecepatan gelombang ultrasonik bergerak melalui material merupakan fungsi yang sederhana dari modulus dan kerapatan material, dengan demikian metode ultrasonik sesuai untuk studi karakteristik bahan. Selain itu, gelombang ultrasonik sangat tercermin pada batas-batas dimana sifat material berubah, sehingga sering digunakan untuk pengukuran ketebalan dan deteksi retak. 

    Kemajuan terbaru dalam teknik ultrasonik adalah tersedianya dalam instrumen portabel. Teknik ultrasonik yang sebagian besar ada di lapangan adalah phased array ultrasonic. Penetapan waktu atau susunan tahapan dari elemen ultrasonik dalam satu transduser memungkinkan penyesuaian yang tepat dari gelombang ultrasonik yang dihasilkan diperkenalkan ke benda uji.



    Eddy Current NDT


    Pengujian secara elektromagnet (ET) terutama pengujian Eddy Current merupakan yang umum digunakan dalam menginspeksi sebuah objek semasa siklus operasinya. 

    Teknik eddy current menggunakan arus alternatif yang diaplikasikan pada gulungan konduktif yang didekatkan pada objek. Hasilnya, objek uji menghasilkan arus eddy untuk melawan arus alternatif pada gulungan tersebut. Eddy current kemudian terjadi pada gulungan yang sama, gulungan yang terpisah, atau sensor medan magnet. 

    Perubahan pada eddy current yang terinduksi kemungkinan disebabkan karena sifat elektromagnetik material dan/atau perubahan geometri, termasuk perubahan mendadak dari arah arus yang disebabkan oleh retak. Dengan demikian metode ET sangat efektif dilakukan untuk mendeteksi retak diatas atau dibawah permukaan logam. Peralatan ET merupakan peralatan portabel dan relatif murah. Pengujian ini merupakan metode kedua yang paling umum dispesifikasikan untuk industri penerbangan.



    Thermographic NDT


    Metode pengujian dengan menggunakan infra merah dan thermal dikarakterisasikan berdasarkan pengukuran panas dari object karena mengalami respon terhadap stimulus. 
    Contoh Hasil Pengukuran Thermographic

    Kamera pencitraan panas merupakan metode yang umum digunakan. Pencitraan pasif dari mesin atau elektronik digunakan untuk mendeteksi titik panas yang diindikasikan sebagai masalah. 

    Pencitraan objek dapat digunakan untuk memonitor aliran panas pada objek, yang merupakan funsgi dari sifat dan batasan material.



    Radiographic NDT


    Secara historis, radiografi merupakan berikutnya yang paling umum dalam metode NDT. Kegiatan yang signifikan terjadi hampir sering setelah Roentgen menemukan X-Ray pada tahun 1895. Literatur yang terdahulu mencatat kemampuan radiograf dalam mendeteksi diskontinuitas dalam cetakan, penempaan dan pengelasan pada logam. 

    Non Destructive test terbaik dan termurah dengan X-Ray
    Diskontinuitas seperti rongga-rongga pada logam sangat mudah dideteksi dalam banyak kasus. Retak juga dapat dideteksi dengan menggunakan teknik radiografi, tetapi sangat perlu diperhatikan pada masalah dan orientasi tegangan residu. 

    Radiografi kemudian digunakan lebih luas meskipun mahal dan implikasi terhadap keselamatan. Penemuan terbaru adalah penggunaan radiografi digital yang telah mengurangi biaya penggunaan dengan cara menghilangkan film.
    Category: articles

    Failure Analysis dan Aplikasinya (Sebuah Pengenalan)

    Kegagalan Tidak Boleh Menjadi Pilihan Kita. Jika Failure Terjadi Harus dianalysis agar tidak terulang


    Failure Analysis adalah proses pengumpulan dan analisa data untuk menentukan penyebab kegagalan, sering digunakan untuk menentukan tindakan koreksi atau pertanggungjawaban dari terjadinya suatu kegagalan. 

    Failure Analysis sangat penting bagi banyak sektor industri, seperti industri elektronik yang mana memiliki peralatan vital yang digunakan didalam mengembangkan produk yang baru dan mengembangkan produk yang sudah berjalan. Proses Failure Analysis sangat bergantung pada pengumpulan komponen yang menyebabkan kegagalan untuk selanjutnya diperiksa penyebabnya dengan menggunakan metode yang beragam. Metode Non destructive Testing (NDT) sangat berguna dalam Failure Analysis karena produk tidak dipengaruhi oleh hasil analisis, sehingga metode ini sering digunakan di awal inspeksi.


    Investigasi Forensik Untuk Failure Analysis


    Penyelidikan forensik terhadap sebuah proses atau produk yang gagal dimulai dari Failure Analysis. Penyelidikan seperti itu dilakukan dengan menggunakan metode analisa sains seperti pengukuran elektrikal dan mekanikal atau dengan data Failure Analysis seperti laporan penolakan produk atau contoh yang sama dari kegagalan yang terjadi sebelumnya. 

    Metode-metode yang digunakan dalam rekayasa forensik sangat berguna untuk menelusuri produk-produk yang cacat produksi seperti retak karena fatigue, kerapuhan yang disebabkan korosi atau lingkungan. Faktor sumber daya manusia juga dapat ditelusuri pada saat menentukan penyebab kegagalan. 

    Beberapa metode yang dapat digunakan untuk mencegah kegagalan produk diantaranya adalah Failuree Mode and Effects Analysis (FMEA) dan Fault Tree Analysis (FTA). 

    Keakuratan sebuah Failure Theory ditentukan dari kualitas data yang dikumpulkan. Tetapi harus tetap berhati-hati dalam mengambil tindakan pada saat dibutuhkan koreksi dalam waktu yang singkat. Contohnya seperti pada kecelakaan pesawat, semua pesawat yang sejenis bisa saja mendapat larangan terbang sampai penyebab kecelakaan tersebut ditemukan dan semuanya harus dilakukan dengan cepat. 

    Beberapa teknik yang digunakan dalam Failure Analysis juga digunakan dalam analisa no fault found (NFF). Istilah NFF biasa digunakan dalam bidang maintenance atau perawatan untuk menggambarkan situasi dimana teknisi yang mengevaluasi tidak dapat memperbaiki potensi cacat dikarenakan kegagalan yang dilaporkan tidak dapat ditemukan. 

    NFF dapat dikaitkan dengan oksidasi, kerusakan sambungan pada komponen elektrikal, saklar pada sirkuit, bug pada perangkat lunak, factor lingkungan yang temporer, bahkan kesalahan operator. Kebanyakan perangkat yang dilaporkan mendapat NFF pada saat pertama kali melakukan troubleshooting sering kali kembali dengan gejala NFF yang sama. 

    Istilah Failure Analysis juga diaplikasikan pada bidang lainnya seperti manajemen bisnis dan strategi militer. 



    Failure Analysis Engineers


    Seorang Failuree analysis engineer biasanya mengambil peranan penting dalam Failure Analysis, baik itu menganalisa apakah suatu komponen atau produk dikatakan gagal pada masa layan atau jika terjadi kegagalan pada manufaktur atau selama proses produksi. Bagaimanapun, seseorang harus menentukan penyebab kegagalan untuk mencegah kejadian di masa depan, dan/atau memperbaiki kinerja perangkat, komponen atau struktur.

    Lihat Juga :


    Category: articles

    VISUAL INSPECTION SEBAGAI TEKNIK NDT


    Inspector sedang memeriksa alat dari keretakan atau kecacatan



    VISUAL INSPECTION


    Visual Inspection adalah metode yang umum digunakan dalam quality control, akusisi data, dan analisa data. Visual Inspection memiliki arti sebagai inspeksi atau pemeriksaan yang dilakukan terhadap sebuah peralatan atau struktur dengan menggunakan salah satu atau semua indra manusia seperti penglihatan, pendengaran, peraba, penciuman dan/atau peralatan inspeksi non-khusus. Inspeksi yang menggunakan peralatan seperti ultrasonic, x-ray, infra merah, dll pada umumnya tidak digolongkan sebagai Visual Inspection karena metode inspeksi ini memerlukan peralatan, pelatihan, dan sertifikasi khusus.




    Visual Inspection Pada Non Destructive Test


    Visual Inspection adalah teknik NDT yang paling tua dan paling umum. Menurut NDT training & Test Center, biasanya Visual Inspection dilakukan sebagai langkah pertama dalam proses inspeksi untuk memeriksa berbagai bentuk, seperti pencetakan, penempaan, komponen mesin dan elemen pengelasan.

    Visual Inspection merupakan yang paling murah dan lebih mudah pengaplikasiannya dibanding teknik yang lain, dan juga sering digunakan untuk menentukan apakah perlu atau tidak dilakukannya inspeksi lanjutan dengan menggunakan teknik yang lain. Beberapa industri yang menggunakan Visual Inspection antara lain, struktur baja, otomotif, petrokimia, pembangkit listrik, dan kedirgantaraan.

    Pengertian Visual Inspection


    Menurut sebuah laporan dari Departemen Perhubungan Federal Aviation Administration (FAA) Amerika Serikat yang berjudul “Visual Inspection Research Project Report on Benchmark Inspection”, dikatakan bahwa Visual Inspection adalah sebuah proses pemeriksaan dan evaluasi dari sebuah sistem dan komponen dengan menggunakan sistem sensorik manusia yang hanya dibantu dengan penyempurnaan mekanis terhadap masukan sistem sensorik seperti kaca pembesar, dental pick, stetoskop, dan sejenisnya. Proses inspeksi biasanya dilakukan dengan cara melihat, mendengar, merasakan, mencium, menggoncang, dan memutar. Hal ini mencakup komponen kognitif dimana pengamatan dikorelasikan dengan pengetahuan tentang struktur dan dengan deskripsi dari literatur layanan.

    Metode NDT Lainnya Yang Menggunakan Visual Inspection


    Metode NDT lainnya memerlukan intervensi visual untuk menafsirkan gambar yang diperoleh saat melakukan pemeriksaan. Hal ini dapat menyimpulkan bahwa pada titik yang sama, semua metode NDT akan memerlukan Visual Inspection.

    Sebagai contoh adalah pengujian dengan menggunakan penetran cair yang menggunakan pewarna sehingga dibutuhkan kemampuan inspektur untuk mengidentifikasi indikasi permukaan secara visual. Pengujian partikel magnetik juga termasuk pada kategori yang sama. Teknik radiografi juga memerlukan penilaian visual dari inspektur untuk mengetahui tingkat kelayakan objek yang sedang diuji.

    Visual Inspection biasanya dilakukan pada posisi-posisi dimana teknik NDT lainnya juga perlu diterapkan, atau area dimana alat bantu mekanis dan optik dapat memberikan hasil pemeriksaan yang lebih baik.


    Syarat-syarat Yang Dibutuhkan Dalam Visual Inspection


    Didalam sebuah naskah mengenai Visual Inspection, The American Welding Society (AWS) menjelaskan tentang syarat-syarat dalam melakukan Visual Inspection terbagi atas tiga area, yaitu:

    · Penglihatan inspektur

    · Jumlah cahaya yang jatuh pada sampel, yang mana diukur dengan menggunakan pengukur cahaya.

    · Apakah pandangan terhadap area yang diuji tersebut tertutup atau tidak.



    Peralatan Mekanikal dan Optik Yang Digunakan Dalam Visual Inspection


    Peralatan mekanikal atau optik dibutuhkan dalam melakukan Visual Inspection. Peralatan-peralatan yang dimaksud antara lain:

    · Boroscope

    · Kaca pembesar

    · Mikrometer

    · Cermin

    · Cahaya ultra-violet

    Tech Service Products menawarkan semua peralatan ini didalam catalog NDT-nya.

    NDT Training & Test Center merekomendasikan bahwa sampel yang diuji harus memiliki pencahayaan dan penerangan yang cukup serta memiliki permukaan yang bersih. Karena semakin kecilnya jarak antara spesifikasi dan toleransi, sehingga peralatan mekanikal dan optik sangat dibutuhkan untuk membantu meningkatkan keakuratan penglihatan oleh inspektur.

    Terlepas dari kemajuan teknologi NDT, Visual Inspection akan terus menjadi teknik atau cara yang diandalkan oleh banyak industri untuk memastikan bahwa quality control dilakukan dengan sangat baik.

    Lihat Juga :
    1. Jasa NDT Terbaik
    2. Perbedaan Flash Point dan Ignition Temperature
    3. Tips Merawat Genset agar awet
    4. Jenis-Jenis Panel Listrik
    5. Perusahaan Water Treatment
    Category: articles